Kamis, 03 November 2016

GURANGSANG ALI

GURANGSANG ALI (RATOH)
Cut Nyak Dien 1848-1908 (duduk di tengah), sebelah kanan adalah Pang Laot. Saat diphoto ini Cut Nyak Dien sudah menderita penyakit rabun
Meulaboh 1894. Tampak seorang penari pria dan ensambel musik tradisi
Bismillahirrahmanirrahim
Ratoh atau do‘a gurangsang ali ini digunakan oleh orang aceh tempoe doeloe dalam peperangan sebagai satu do’a kesaktian (mantra), sekaligus juga sebagai satu seni tutur pembangkit dan pendorong semangat sakti pejuang2 endatu orang aceh tempoe doeloe, disamping hikayat-hikayat aceh lain yang membangkitkan semangat secara global(umum)contoh seperti hikayat prang sabi.
Di zaman peperangan dengan belanda sebelum dan sesudah tahun 1873, pejuang pejuang aceh yang menguasai do’a, ratoh, dan hikayat hikayat pembangkit semangat peperangan ditangkap lalu dipenjara bahkan diasingkan-dibuang keluar aceh oleh belanda.
Belanda sangat mengetahui salah satu tantangan yang sangat besar dalam agresi mereka yaitu kobaran semangat perlawanan dari rakyat aceh melalui do’a2, hikayat2, ratoh2.
Perbedaan yang tidak terlalu mencolok antara kata-kata dalam bait2 hikayat prang sabi dan Gurangsang ali yang sama2 bertujuan untuk membangkitkan semangat, hikayat prang sabi berperan secara global, sedangkan gurangsang ali bersifat khusus untuk individu, tetapi pada masa peperangan dahulu, baik masa kolonial belanda maupun masa-masa peperangan sebelumnya, pengamal gurangsang ali harus lebih dulu memahami hikayat prang sabi karangan Tgk.chik pantee kulu itu, sebagai anak kunci pembuka pintu menuju ke gurangsang ali.
Mantera sakti gurangsang ali di Aceh sangat populer dikalangan pendekar2 pejuang zaman peperangan dahulu dan juga digunakan oleh sebagian anggota gerakan aceh merdeka (Gam) dalam konflik di aceh beberapa waktu yang lalu.
Menurut sumber yang bisa dipercaya, do’a gurangsang ali efeknya bisa langsung dirasakan oleh pengamalnya untuk berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesaktian dan kekuatan, dengan syarat jika sipengamal mantra ini memahami secara mendalam makna yang terkandung didalam bait perbait gurangsang ali disertai dengan keyakinan yang kuat, dan harus melalui latihan-latihan terlebih dahulu.
Orang zaman dahulu memberi nama mantra atau ratoh ini dengan nama gurangsang ali dikarenakan salah satu panutan orang aceh dibidang keperkasaan-kesaktian yaitu Ali seorang sahabat Rasulullah itu, salah seorang panglima perang yang gagah berani di zaman Nabi Muhammad SAW.
Gurangsang Ali yang berarti “semangat ali“ atau semangat Ali.
Do’a ini diawali dengan Basmalah dan diakhiri dengan mengagungkan asma Allah diakhir baitnya, ini membuktikan bahwa gurangsang ali adalah salah satu ilmu kesaktian yang bermental spritualitas Islam.
Kalau kita simak bait perbait do’a gurangsang ali bisa kita simpulkan bahwa tidak ada unsur atau kekuatan-kekuatan dari luar yang dibangkitkan atau dengan kata lain murni kekuatan di dalam tubuh atau tenaga dalam yang bersifat sangat tradisional, tradisional yg dimaksudkan disini yaitu satu tehnik endatu (moyang) orang aceh untuk
membangkitkan kekuatan yang ada dalam tubuh melalui keyakinan hati-kebatinan (memotifasi-sugesti), melalui seni tutur atau ratoh (mantra yang dibacakan).
Ini berarti sumbernya dari pandekar aceh tempoe doeloe yang beraliran putih (white magic). Coba kita kupas lebih dalam lagi kata2 dalam gurangsang ali dalam bait perbait.
Endatu orang aceh tempoe doeloe sangat memahami bahwa segala sesuatu yang diusahakan jika terjadi maupun tidak, semata-mata karena rahman dan rahimnya ALLAH azzawajalla. Oleh karena itu yang merangkai do’a gurangsang ali ini dahulu mengawalinya dengan Basmallah, berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada yang khalik.
Berikut ini merupakan beberapa petikan dari mantra atau doa gurangsang ali beserta makna dan penjelasan nya :
-HU ALI GURANGSANG ALI BЀUDÖH BERЀUHI JЀUT2 ANGGOTA.
dalam bait ini siperangkai memerintahkan seluruh anggota indra tubuh untuk bangkit dengan penuh semangat disertai nafsu nafsu yang baik sebagai daya dorong untuk memunculkan semangat dan tenaga (bereuhi-birahi) seperti semangat dan nafsu Ali dalam medan peperangan.
-BЀUDÖH EE…!BULЀI BЀULAGЀI KABAT BЀUDÖH HAI URAT BAGÖЀ MЀUNILA.
Selanjutnya dibait ini memerintahkan kepada bulu bulu (bulei) diatas kulit sebagai unsur pertahanan paling luar ring 1 di Tubuh kita, untuk bangkit-bangun menjadi keras laksana unsur kawat (kabat-kawat), sekaligus memerintahkan semua urat-urat juga untuk bangkit seperti unsur besi yang paling keras (meunila-unsur besi yang paling baik dan paling keras).
-KULЀT NGÖN ASÖЀ KUTA NYANG KUKÖH BЀUKÖNG TЀUGÖH TUHAN KUASA.
Setelah pertahanan di ring 1 bulu dan ring tiga segala urat sudah siaga, diperintahkan kepada benteng pertahanan (kuta) di ring 2 yaitu kulit dan ring 4 yakni daging untuk menjadi kokoh kuat dan teguh, semuanya ini dengan izin dan kuasa Tuhan.
-DARAH NYANG KUYU KATREUN U GAKI DARAH BERЀUNI KAЀIK U MUKA.
kemudian darah sebagai bagian pertahanan yang mengalir dalam tubuh. Diingatkan dan diperintahkan untuk berpindah tempat, bagi darah yang tidak bersemangat-loyo (kuyu- loyo tidak bersemangat), untuk pindah ke bawah (katreun u gaki),digantikan oleh darah yang penuh semangat serta berani untuk menuju-naik ke posisi paling atas-muka (kaèk u muka).
Sebagai rujukan saja, bahwa GURANGSANG ALI sebanyak 8 bait sebagai lambang 8 penjuru ilmu Melayu Sumatera.
“HU ALI GURANGSANG ALI,
GANCENG ALAM GURANGSANG ALI. DI BAROH ALI
………
DENGOEN BEUREUHI POKU ALLAH
BERKAT DO’A NEK SAYYIDINA HAMZAH
BERKAT KALIMAT LAILAHAILLALLAH.
PULANG SAKAT.
TA BA PULANG BA
BA PULANG BA
PULANG PALING
PALIG PALO
PULANG KEUDRO
SENDIRINYA
BERKAT KALIMAT
LAILAHAILLALLAH”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar